Jangan Langsung Tutup! Begini 4 Cara Atasi Masalah Nyaris Bangkrut Pada Bisnis

Sebagai seorang pengusaha, kamu tentu telah memperhitungkan risiko bisnis bangkrut. Pemasukan lebih sedikit ketimbang pengeluaran, bukannya untung malah buntung. 

Seperti itulah bisnis, kadang di atas kadang di bawah. Tagihan utang yang membludak di awal-awal perusahaan berdiri, sampai ketidakpastian dana dari investor bikin sakit kepala para pengusaha dan berujung kebangkrutan dalam bisnisnya. 

Jika semuanya tidak sesuai ekspektasi, opsi terburuknya ya bangkrut alias gulung tikar. Tenaga yang telah dikerahkan untuk membangun perusahaan, menjadi sia-sia. 

Tapi bisnis bangkrut sebenarnya bisa diminimalisir dengan beberapa langkah mudah sampai ekstrem. Berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan pengusaha untuk menghindari bisnisnya dari kebangkrutan. 

Baca juga: Punya Banyak Bisnis, 5 Artis Muda Indonesia Ini Hidup Bergelimang Harta

1. Coret pengeluaran yang gak penting 

bisnis bangkrut

Mengurangi biaya yang gak penting salah satu cara atasi bisnis memasuki kebangkrutan, (Ilustrasi/Shutterstock).

Upaya pertama yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bisnis bangkrut adalah dengan memangkas pengeluaran. Saat pemasukan sedang seret-seretnya, gak pas rasanya kalau bisnismu malah terus menggenjot pengeluaran. 

Usahakan untuk memangkas pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting, meskipun jumlahnya gak terlalu signifikan. 

Contohnya, bisa memotong acara makan-makan rutin bulanan sekantor, memotong fasilitas gym yang diberikan perusahaan untuk karyawan atau sekadar memotong langganan TV streaming untuk perusahaan. Pangkas semaksimal mungkin pengeluaran-pengeluaran yang kira-kira tidak memiliki dampak signifikan terhadap keberlangsungan bisnis. 

Baca juga: Jarang Terekspos, Becky Tumewu Ternyata Makin Sukses dengan Bisnis Ini

2. Jual aset yang gak dibutuhkan lagi 

bisnis bangkrut

Menjual aset salah satu cara buat mengatasi bisnis yang menjelang bangkrut, (Ilustrasi/Shutterstock).

Semua bisnis tentu memiliki aset penunjang. Bentuknya pun bermacam-macam, bisa berupa, kendaraan, alat elektronik, sampai properti. 

Demi mengurangi beban operasional dan menambah dana segar untuk bisnismu, kamu bisa menjual aset yang sudah tidak lagi digunakan. Misal kendaraan operasional kantor yang jarang sekali digunakan. 

Baca juga: Pengin Bisnis Makin Laku Keras dan Untung Banyak, Ini Strategi Jitu yang Perlu Dicoba

3. Prioritaskan membayar utang dengan bunga tertinggi

bisnis bangkrut

Membayar bunga utang salah satu cara buat mengatasi kebangkrutan, (Ilustrasi/Shutterstock).

Untuk memperlambat kebangkrutan terjadi, kamu bisa utamakan pengeluaran untuk membayar utang-utang bisnis dahulu. Prioritaskan membayar utang yang memiliki bunga tertinggi. Tapi, bukan berarti kamu harus mengesampingkan kreditor dengan bunga rendah ya. 

4. Lihatlah rencana bisnis beberapa tahun sebelumnya 

Bisnis bangkrut

Menelisik bisnis yang lalu bisa lho sebagai bahan pertimbangan mengatasi kebangkrutan, (Ilustrasi/Shutterstock).

Bisnis bangkrut adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh pengusaha manapun. Tapi salah satu penyebabnya bisa terjadi karena tidak konsistennya kegiatan bisnis terhadap rencana yang telah disusun sejak awal. 

Sikap gak konsisten ini bisa bikin pengeluaran tiba-tiba membludak, karena proses bisnis yang berubah-ubah. Alhasil, harusnya cuma keluar sekian ratus juta, jadi sekian miliar.

Cobalah untuk melihat rencana bisnis beberapa tahun belakangan. Cocokkan kembali antara rencana tersebut dengan apa yang perusahaanmu lakukan saat ini. Apabila ada yang tidak cocok, segera hentikan, dan kembali fokus terhadap rencana awal. 

Itulah beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh pengusaha untuk meminimalisir atau mengatasi bisnis bangkrut. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menjual unit bisnis ke investor. Menjual atau mengakuisisi bisa mengatasi masalah kekurangan dana yang selama ini dihadapi. Tapi tentu saja, kepemilikan usaha bakal berubah. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma). 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *