Millennial Cenderung Memilih Traveling ke Tempat yang Sama, Mengapa?

(sumber: unsplash.com)

Sebagian besar orang yang senang traveling cenderung akan berpikir jauh saat merencanakan pelesiran. Mungkin kamu adalah salah satu dari sekian banyak traveler yang punya visi besar untuk traveling ataupun tipikal traveler yang selalu berpikir matang-matang dalam merencanakan traveling. Namun, sebenarnya setiap orang memiliki gaya dan tujuan dari travelingnya. Baik itu untuk menjelajah makanan khas, petualangan, belajar seni dan budaya, atau sekadar ingin istirahat.

Baca Juga : Mikro-kation, Tren Baru Untuk Jalan-Jalan di Waktu Pendek

Millennial Cenderung Memilih Traveling ke Tempat yang Sama, Mengapa?

Merencanakan traveling,packing, mengurus dokumen-dokumen penting untuk keperluan traveling memang begitu melelahkan. Bahkan tidak sedikit orang menjadi malas bergerak untuk mengurusi keperluan atau tetek-bengek traveling ini. Ada juga yang hilang motivasi untuk traveling karena keterbatasan waktu yang dimiliki antara waktu untuk kerja dan waktu libur. Ketika capek bekerja di weekday, rasanya sayang menggunakan sisa weekend dengan keluar rumah untuk menghabiskan waktu liburan ke tempat jauh.

Maka, tidak heran sekarang ini banyak pula motivasi orang-orang untuk traveling atau liburan orientasinya bukan untuk memenuhi cita-cita ke destinasi impian. Namun, kini motivasi liburan pun untuk memenuhi kebutuhan raga dan pikiran agar istirahat efektif.

Melansir TravelPulsed, Tidak sedikit orang yang sedang mencari informasi untuk merencanakan liburan malah merasakan “net lag” atau “scroll fatigue” yaitu merasakan lelah, bosan, bahkan menghilangnya rasa ketertarikan dari niat awal berselancar di dunia maya. Generasi millennial atau generasi 90an adalah generasi yang sering mengalami hal tersebut. Bahkan, tidak jarang kebanyakan millennial menganggap jika mencari tahu rencana liburan terlalu berlebihan.

Rata-rata yang sering dialami millennial adalah menghabiskan 8 jam untuk merencanakan liburan berbasis daring yang setelahnya mengalami scroll fatigue 40 menit setelahnya. Hal tersebut membuat setiap millennial yang mengalami scroll fatigue, pada akhirnya mengambil keputusan untuk liburan di tempat yang sama atau tempat yang mereka sudah diketahui sebelumnya dengan alasan malas mencari tempat baru.

Baca Juga: Travel Kiat Sukses Bisnis

Selain masalah scroll fatigue yang sering dialami oleh millennial, masalah kekhawatiran meninggalkan pekerjaan sejenak adalah faktor lain dari urungnya para millennial mencari destinasi baru untuk pelesiran. TravelPulsed menyatakan, sekitar 56 persen millennial golongan profesional muda enggan meninggalkan pekerjaan karena tidak ingin menumpukkan pekerjaan. Hal tersebut menyebabkan banyaknya profesional muda mengalami overworked dan malas untuk merencanakan pelesir jauh.

Nah dari sini Millennial Cenderung Memilih Traveling ke Tempat yang Sama, Mengapa? Mungkin sedikit bisa terjawab dari apa yang kami jelasan diatas.




One thought on “Millennial Cenderung Memilih Traveling ke Tempat yang Sama, Mengapa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *